Pertanyaan-pertanyaan Filsafat Manusia

Permalink to section "Pertanyaan-pertanyaan Filsafat Manusia"

Perbedaan Filsafat Manusia dengan Ilmu-ilmu Kemanusiaan (Antropologi dan Psikologi): Apa yang menjadi ciri khasnya?

Permalink to section "Perbedaan Filsafat Manusia dengan Ilmu-ilmu Kemanusiaan (Antropologi dan Psikologi): Apa yang menjadi ciri khasnya?"

Filsafat manusia adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia, yaitu pengada hidup yang paling tinggi di antara semua pengada hidup. Ia mempelajari tentang sifat dan tindakan manusia, serta prinsip dan prinsipnya.

Ilmu-ilmu kemanusiaan, seperti antropologi dan psikologi, berupaya menemukan hukum-hukum tindakan manusia yang semata-mata bersifat empiris. Mereka membatasi diri pada kajian satu segi saja dari sifat dan tindakan manusia, entah itu aspek biologisnya, fisiknya, atau psikologisnya. Konsekuensinya, kesimpulan yang dicapai sering kali diungkapkan dalam bahasa matematika atau statistik, sebab hanya mencakup hal-hal yang dapat diukur dan dihitung.

Berbeda secara radikal, filsafat manusia menanyakan hal yang lebih mendasar, yakni apa yang menjadi ciri khas dan prinsip fundamental manusia, apa yang memberikan sifat kesatuan pada dirinya, dan apa pula tindakan yang khas darinya. Oleh karena itu, filsafat manusia bersifat lebih fundamental dan ontologis (ontologi: the study of beings—pengada), menjadikannya lebih luas dan mempersatukan. Kekhasan filsafat manusia terletak pada objek formal penyelidikannya, yang meliputi unsur material dan immaterial, di mana unsur immaterial ini diakui sebagai pembentuk manusia secara mutlak. Pengetahuan ini tidak berasal dari persepsi inderawi, melainkan merupakan hasil penangkapan intelektual terhadap prinsip ada (the principle of being): hal yang memungkinkan manusia memiliki sifat keberadaan yang otentik.

Maksud dari ‘Kesatuan Substansial’ pada Pengada Hidup dan Enam Cirinya.

Permalink to section "Maksud dari ‘Kesatuan Substansial’ pada Pengada Hidup dan Enam Cirinya."

Kesatuan substansial adalah konsep kunci yang menjelaskan bagaimana sebuah entitas hidup mempertahankan identitasnya meskipun mengalami perubahan.

Kesatuan substansial berarti pengada hidup tinggal identik dengan dirinya secara fundamental, mulai dari kelahiran, pertumbuhan, hingga akhir hayatnya. Karena kesatuan substansial inilah, apa yang bersifat prinsip, apa yang merupakan hasil dari kegiatan autoperfektif, dan kesatuan antara yang menggerakkan dan yang digerakkan, tetaplah realitas yang sama.

Kesatuan ini memancarkan enam ciri esensial. Pertama, ia bersifat Dinamis-Menstrukturkan, menjadi sumber primordial (energi primordial) dari kegiatan-kegiatan yang beraneka ragam dan terkoordinasi, serta memberikan struktur yang memungkinkan keberadaan pengada hidup yang kompleks, seperti manusia. Kedua, ia Interior, berada di dalam pengada hidup itu sendiri. Dari kesatuan inilah pengada hidup mengembangkan dirinya, darinya memancar semua kegiatan, dan ke dalamnya semua kegiatan tersebut cenderung kembali. Ketiga, ia bersifat Natural, telah dimiliki dan menstrukturkan pengada hidup sejak awal hidupnya, bukan hasil penggabungan artifisial, sehingga selalu hadir pada setiap tahap perkembangan. Keempat, ia Memiliki Kesadaran, memungkinkan pengada hidup hadir pada dirinya sendiri, yang menjadi prasyarat bagi usaha penyempurnaan dan realisasi diri. Kelima, ia bersifat Subjektif, selalu terikat pada subjek; ia dialami oleh pengada hidup sebagai ‘aku’ dan mustahil direduksi sebagai objek atau sekadar alat. Keenam, ia Kompleks, tersusun atas berbagai bagian terorganisir yang saling bergantung dan memiliki konfigurasi khas untuk memenuhi fungsi tertentu. Manusia, yang memiliki kompleksitas dan jumlah fungsi biologis tertinggi, juga memiliki kesatuan substansial yang paling tinggi di antara semua pengada hidup.

Kekhasan Tubuh Manusia Dibandingkan dengan Tubuh Hewan.

Permalink to section "Kekhasan Tubuh Manusia Dibandingkan dengan Tubuh Hewan."

Tubuh manusia memiliki kekhasan yang membedakannya dari tubuh hewan.

Tubuh manusia menampilkan kekhasan yang membedakannya dari tubuh hewan. Postur Tegak adalah yang pertama, yang memungkinkannya melihat benda-benda dari atas dan memperluas jangkauan pandangnya, yang memudahkan peningkatan aktivitas roh, yaitu interaksi antar-manusia. Posisi tegak ini juga membebaskan wajah dari fungsi penyerangan, pertahanan, atau sebagai alat. Wajah, dan semua bagiannya, kini disiapkan untuk fungsi bahasa, mimik, dan ekspresi. Kedua, Tangan manusia merupakan bagian tubuh yang istimewa karena ia tidak memiliki spesialisasi fungsi. Karena postur tegaknya, tangan manusia terbebas dari fungsi berjalan. Dengan demikian, fungsi tangan pada manusia bisa berubah-ubah dan beradaptasi, menjadikannya simbol serta instrumen inteligensi manusia, mampu mengukur, mengambil, membentuk, sampai mengisyaratkan bahasa. Kekhasan ketiga adalah Ketidakspesialisasian Organik secara keseluruhan. Struktur tubuh manusia tidak terspesialisasi untuk tugas tertentu saja, melainkan mampu beradaptasi pada berbagai situasi, misalnya berlari jauh (marathon), memanjat pohon menggunakan tali, sampai berenang dan menyelam ke dalam air. Akhirnya, Sistem Saraf dan Otak yang Kompleks memberikan struktur internal yang memungkinkan kesadaran manusia mencapai taraf yang jauh lebih tinggi daripada binatang. Otak manusia juga tersusun secara asimetris, di mana bagian kanan dan kiri memiliki fungsi masing-masing.

Prasyarat Pengetahuan dari Sisi Subjek dan Objek.

Permalink to section "Prasyarat Pengetahuan dari Sisi Subjek dan Objek."

Pengetahuan tidak muncul begitu saja, melainkan membutuhkan prasyarat baik dari sisi subjek maupun objek yang hendak diketahui.

Dari sisi subjek, pengetahuan mengandaikan adanya Keterbukaan, yaitu kapasitas untuk menyadari eksistensi dan kodrat realitas di sekitarnya. Kedua, adanya Kemampuan Menyambut, yaitu kemampuan subjek untuk dapat dipengaruhi objek sehingga muncul gambaran, ingatan, atau ide di dalamnya. Ketiga, adanya Interioritas, yaitu ruang batin pada subjek bagi sesuatu yang lain dari dirinya. Semakin ia memiliki interioritas, semakin banyak hal yang bisa ia ketahui. Keterbukaan, kemampuan menyambut, dan interioritas ini mengandaikan adanya dimensi immaterial pada subjek; semakin besar dimensi immaterial ini, semakin besar pula jumlah pengetahuan yang subjek dapat ketahui.

Dari sisi objek, pengetahuan mengandaikan adanya Bentuk (Eidos). Untuk bisa diketahui, suatu objek harus memiliki bentuk yang memungkinkan ia memberi kesan atau mempengaruhi subjek, dan akhirnya bisa ditangkap oleh subjek. Eidos suatu benda dapat menunjukkan pada subjek apa orientasi, tujuan, dan hakikat, sekaligus tujuan tertentu dari objek tersebut.

Perbedaan antara Pancaindra dan Inteligensi dalam Pencapaian Pengetahuan.

Permalink to section "Perbedaan antara Pancaindra dan Inteligensi dalam Pencapaian Pengetahuan."

Pancaindra dan inteligensi memiliki peran yang berbeda namun saling melengkapi dalam proses pencapaian pengetahuan.

Kekhasan pancaindra adalah kemampuannya mencapai kualitas luar dari objek konkret yang ada di hadapannya secara langsung. Maka, dengan pancaindra kita hanya bisa mengetahui suatu benda secara inderawi (bentuk, suhu, bau, rasa, dan bunyinya), tanpa mengetahui kodrat atau eidos-nya. Eidos suatu benda baru dapat diketahui melalui intelegensi. Inteligensi menangkap, menyimpan, mempertimbangkan, dan menyatakan eidos objek melalui konsep atau ide. Pengetahuan yang dihasilkan inteligensi bersifat Objektif—melihat realitas apa adanya—Mendalam—menangkap apa yang hakiki, fundamental, dan universal, sekaligus apa yang bersifat individu dan partikular—dan Terartikulasi—pengetahuan yang dihasilkan saling berkaitan dengan pengetahuan yang sebelumnya ada. Jadi, pencapaian pengetahuan oleh intelegensi lebih mendasar atau fundamental daripada yang dicapai oleh pancaindra. Namun, bukan berarti keduanya bekerja secara terpisah, melainkan keduanya bekerja saat pancaindra mengenali sesuatu, inteligensi juga turut bekerja.

Inteligensi manusia dewasa dikatakan bersifat objektif artinya ia melihat sesuatu sebagaimana adanya, dan melampaui bagaimana hal-hal itu tampak padanya menurut selera dan kebutuhan-kebutuhannya, tidak seperti pada anak-anak yang inteligensinya bersifat egosentris (mengarahkan segala sesuatu pada dirinya). Inteligensi manusia juga dikatakan mendalam karena ia mampu menangkap apa yang fundamental dan hakiki dari suatu peristiwa, gejala, kegiatan, atau pengada tertentu. Realitas dilihat tidak hanya dari apa yang diterima oleh pancaindra, melainkan apa yang sungguh-sungguh menjadi inti masalah, struktur fundamental, serta ciri khas dan spesifiknya. Dengan demikian, inteligensi juga dapat menemukan ciri khas dan eksklusif pada setiap individu, termasuk dirinya sendiri.

Perbedaan antara Persepsi, Aprehensi, dan Insight.

Permalink to section "Perbedaan antara Persepsi, Aprehensi, dan Insight."

Persepsi, aprehensi, dan insight adalah tiga tingkatan dalam proses kognitif manusia yang berbeda namun saling berkaitan.

Persepsi adalah pengetahuan spontan pra-sadar dan pra-pribadi tentang dunia di sekitar kita. Persepsi merupakan dasar bagi segala kegiatan kita yang sadar dan dipikirkan. Misalnya, ketika kita sedang melamun, pancaindra kita secara spontan tetap menangkap pengetahuan dari luar diri kita, seperti melihat orang berjalan dari jendela, yang merupakan kegiatan kognitif yang bersifat pasif. Aprehensi adalah kegiatan inteligensi yang membuat kita menjadi lebih sadar tentang apa yang terjadi di sekitar dan di dalam diri kita. Misalnya, kita menyadari orang-orang mulai berlari, ada yang membuka payung, dan kita merasa hembusan angin dingin dan lembab masuk. Kegiatan menyadari dan mencatat situasi-situasi ini disebut aprehensi, yang dibangun di atas persepsi dan telah keluar dari keadaan melamun. Insight adalah pengetahuan yang tiba-tiba atas sebuah realitas, yang diperoleh dengan membuat hubungan dengan kategori dan prinsip-prinsip yang sudah lebih dulu dikenalnya. Misalnya, ketika kita melihat orang membuka payung, karena sudah memiliki pengetahuan tentang hubungan antara hujan dan payung, kita dapat langsung mengambil kesimpulan bahwa terjadi hujan. Insight mengandaikan kemampuan inteligensi untuk melakukan abstraksi, yaitu menerangi data sedemikian rupa sehingga menonjolkan dan membuat jelas ciri-ciri pokoknya. Namun, apa yang dipahami dalam insight harus dibuktikan dan diteliti terlebih dahulu melalui penalaran atau refleksi sebelum ditegaskan secara sah dalam putusan (judgement), karena insight bukanlah keseluruhan kegiatan intelektual.

Enam Perbedaan antara Bahasa Hewan dan Bahasa Manusia.

Permalink to section "Enam Perbedaan antara Bahasa Hewan dan Bahasa Manusia."

Bahasa hewan dan bahasa manusia memiliki perbedaan yang signifikan.

Proses memperoleh bahasa pada hewan didapat sejak lahir dan tidak perlu dipelajari atau diajari. Berbeda dengan manusia, bahasa harus dipelajari, sebab jika tidak diajari oleh orang tua, ia tidak akan pernah mengerti. Dari segi signifikansi, ketika hewan mulai bisa berbahasa/berkomunikasi, tidak ada perubahan signifikan yang terjadi. Namun, pada manusia, bahasa menjadi titik tolak munculnya keingintahuan dan kreativitas yang luar biasa. Dalam hal perkembangan, bahasa hewan tidak berkembang, turun-temurun sama saja, sementara bahasa manusia berkembang, memungkinkan penemuan kosakata baru dan kemampuan untuk belajar bahasa lain. Mengenai alih bahasa, bahasa binatang tidak bisa diterjemahkan ke bahasa binatang lainnya, sedangkan bahasa manusia bisa diterjemahkan ke semua bahasa lain. Hewan tidak menyimpan bahasanya dalam bentuk apa pun (pengarsipan atau penyimpanan), tetapi manusia menyimpan bahasa dalam tulisan, dan tulisan tersebut menjadi media untuk mencurahkan perasaannya. Terakhir, komunikasi hewan merupakan ungkapan perasaan afektif yang bersifat spontan dan tidak dapat ditahan. Manusia, sebaliknya, bisa menahan untuk tidak berteriak; di antara keadaan afektif dan ucapannya, manusia berpikir sejenak dan mempertimbangkan terlebih dahulu.

Enam Unsur Kodrat Manusia yang Tersimpulkan Melalui Fenomena Bahasa.

Permalink to section "Enam Unsur Kodrat Manusia yang Tersimpulkan Melalui Fenomena Bahasa."

Fenomena bahasa mengungkapkan enam unsur kodrat manusia.

Fenomena bahasa mengungkapkan enam unsur kodrat manusia. Pertama, Kesatuan Substansial; dengan berbahasa (mengisyaratkan dan berbicara), manusia melakukan kegiatan yang bersifat banyak, dan waktu ia melakukan perbuatan-perbuatan itu, ia haruslah tetap tinggal satu (identik) dengan dirinya secara substansial. Kedua, Interioritas; berkat bahasa, seseorang hadir dalam dunia. Namun, kegiatan berbahasa bukanlah sekadar eksteriorisasi belaka, karena apa yang dikatakannya tentang dunia telah lebih dulu dipikirkan dan terkandung dalam dirinya sendiri. Kenyataan bahwa seseorang selalu meninjau kembali apa yang telah dikatakannya menunjukkan bahwa yang mendasari dan menjadi prinsip ucapan adalah pikiran kita. Ketiga, status sebagai Pengada Hidup terlihat dari adanya kemampuan untuk menerima dan untuk bersifat kreatif. Berbicara berarti manusia menempatkan diri, menyesuaikan diri, dan berpartisipasi ke dalam suatu dunia sebagai sesuatu yang hidup. Keempat, Afektivitas; dalam berbahasa, manusia selalu mengemukakan apa yang telah ia ketahui tentang dunia. Manusia mempunyai afektivitas karena setiap orang hampir hanya membicarakan apa yang menarik baginya, dan ia hanya berbicara pada orang yang setidak-tidaknya membuat dirinya merasa senang. Kelima, bahasa menunjukkan manusia Terdiri dari Badan dan Roh (Spirit and Body). Badan yang hidup memungkinkan manusia bersignifikansi, mengeluarkan suara, dan memberikan isyarat, yang kemudian dijiwai oleh suatu roh yang bisa memberikan makna pada suara dan isyarat-isyarat tadi. Keenam, bahasa menunjukkan sifat Berpikir dan Bebas pada manusia. Berbicara dan mengisyaratkan berarti mengemukakan hal-hal dengan objektif, dan bukan hanya dari segi keinginan dan rasa subjektif. Dengan mengungkapkan realitas secara apa adanya (objektif) dan tanpa prasangka (tidak subjektif), manusia bisa membuat diri sederajat dengan realitas sebagai pengada hidup yang berpikir dan bebas.

Kemiripan dan Perbedaan antara Tindakan Afektif dan Tindakan Mengenal.

Permalink to section "Kemiripan dan Perbedaan antara Tindakan Afektif dan Tindakan Mengenal."

Tindakan afektif dan tindakan mengenal memiliki perbedaan dan kemiripan.

Kedua tindakan ini memiliki dua kemiripan mendasar. Keduanya adalah perbuatan imanen, yang berarti sama-sama berasal dari diri sendiri, di mana subjek menjadi pangkal pokok sekaligus pihak yang menerima. Keduanya juga perbuatan intensional, artinya sama-sama membuat subjek terbuka, terarah, dan terhubung dengan subjek lain di dunia, yang pada akhirnya membuatnya berada di dunia.

Namun, terdapat lima perbedaan yang signifikan. Pertama, tindakan afektif lebih pasif daripada tindakan mengenal, karena dalam afeksi, subjek tidak perlu berbuat apa-apa, melainkan dipengaruhi objek sehingga merasa tertarik. Kedua, tindakan afektif lebih ekstatis, dalam artian membawa subjek keluar dari dalam dirinya. Ketiga, ia lebih dinamis, karena mendorong munculnya tindakan dari subjek, sebagai reaksi terhadap objek. Keempat, tindakan afektif lebih realistis karena mengarah langsung dan ‘menyentuh’ apa yang konkret dan nyata dalam realitas, sementara mengenal hanya sejauh pada ide-ide. Kelima, tindakan afektif lebih partisipatif, membuat subjek ‘menyatu’ atau ‘berpartisipasi’ dalam mengenal objek secara intensif.

Hakikat, Prinsip, dan Signifikansi Evolusi.

Permalink to section "Hakikat, Prinsip, dan Signifikansi Evolusi."

Hakikat evolusi adalah kenyataan bahwa alam semesta berada dalam proses menjadi (becoming) atau berubah menuju suatu kondisi yang lebih sempurna. Menurut Teilhard de Chardin, proses ini terbagi menjadi tiga tahap: terbentuknya bumi atau materi (geosfer), munculnya kehidupan atau vitalisasi materi (biosfer), dan munculnya kesadaran dan budi atau homonisasi kehidupan (noosfer).

Dua prinsip utama evolusi menurut Teilhard de Chardin adalah Peningkatan Kompleksitas, yang terlihat dalam perkembangan organisasi internal suatu organisme sehingga strukturnya makin canggih, misalnya dari amoeba hingga mamalia; dan Peningkatan Kesadaran, di mana perkembangan sistem syaraf pengada hidup yang semakin rumit memungkinkan meningkatnya kesadaran, yang puncaknya adalah kesadaran reflektif manusia.

Signifikansi evolusi bagi manusia adalah bahwa proses panjang ini mengarah pada manusia, menempatkannya sebagai puncak evolusi dan memberikannya posisi yang khusus. Dimensi kesadaran yang ada pada manusia memberikan suatu tanggung jawab, yaitu untuk menentukan tahap evolusi selanjutnya. Oleh karena itu, masa depan evolusi merupakan interaksi fundamental antara hukum alam dan kebebasan manusia.

Hubungan antara Kehendak dan Kebaikan, serta Ekspresi Keaslian Kehendak.

Permalink to section "Hubungan antara Kehendak dan Kebaikan, serta Ekspresi Keaslian Kehendak."

Kehendak dan kebaikan memiliki hubungan yang erat.

Kebaikan merupakan objek sekaligus tujuan hakiki dari kehendak. Kehendak selalu mengarahkan diri pada kebaikan karena kebaikanlah yang dikehendaki oleh manusia secara mutlak. Namun, yang memiliki peran untuk menilai baik atau buruk bukanlah kehendak, melainkan inteligensi. Setelah inteligensi menilai sesuatu itu baik atau buruk, kehendak akan memilih yang baik. Ini memungkinkan kehendak manusia bisa menyimpang ke kebaikan-kebaikan lain yang subjektif dan tidak baik dari dirinya sendiri. Oleh karena itu, kehendak manusia harus selalu diterangi oleh pengenalan intelektual tentang kebaikan-kebaikan yang mutlak.

Keaslian kehendak termanifestasi dalam dua bentuk. Pertama, Penguasaan Diri (self-control), yaitu tindakan-tindakan yang dilakukan tanpa adanya ancaman. Keaslian kehendak paling terlihat ketika seseorang menghendaki (karena motif-motif rasional) sesuatu yang bertentangan dengan perasaan inderawi kita. Misalnya, seseorang rela lapar demi menurunkan berat badan, yang memperlihatkan kehendak akan kebaikan yang lebih tinggi. Kedua, Perhatian Sengaja, yaitu kemampuan untuk memusatkan indera dan kesadaran kita pada suatu objek tertentu. Kita memusatkan diri pada objek tertentu karena kita menghendakinya, dan kita menghendakinya karena inteligensi mengatakan kepada kita bahwa tindakan memusatkan diri itu adalah sesuatu yang baik untuk dilakukan (misalnya, fokus pada dosen).

Tiga Argumen yang Menegaskan Adanya Kebebasan pada Manusia.

Permalink to section "Tiga Argumen yang Menegaskan Adanya Kebebasan pada Manusia."

Argumen pertama adalah Argumen Kesepakatan Umum. Kebanyakan orang berkeyakinan bahwa manusia memiliki kebebasan. Keyakinan ini penting karena ia memengaruhi seseorang melalui pengharapan, sikap, tindakan, dan rasa tanggung jawabnya. Jika kehidupan manusia di dunia terbukti koheren dan konsisten, keyakinan sebagian besar umat manusia ini tidak boleh dan tidak mungkin keliru, sehingga kebebasan itu ada. Meskipun keyakinan mayoritas tidak menjamin kebenaran, argumen ini harus dipertahankan. Jika ternyata manusia tidak bebas, akan terjadi perubahan fundamental yang akhirnya melenyapkan nilai-nilai tanggung jawab dalam kehidupan manusia.

Argumen kedua adalah Argumen Psikologis. Sebagian besar manusia secara spontan mengakui kebebasan, keyakinan yang berasal dari pengalaman sehari-hari, yang disadari secara langsung maupun tidak langsung. Secara Langsung, kebebasan disadari ketika kita secara sadar memilih untuk melakukan perbuatan A daripada B setelah melalui penilaian intelektual dan pertimbangan moral. Walaupun seseorang dipengaruhi beberapa faktor seperti pendidikan atau ‘godaan’, faktor-faktor itu tidak bisa memaksa seseorang; keputusan itu muncul dari ‘aku’ yang dalam, dari dasar kepribadian saya. Secara Tidak Langsung, kebebasan terbukti dari kegiatan sehari-hari, seperti berunding, mempertimbangkan pro-kontra, penyesalan, mengagumi, memuji, dan menghadiahi perbuatan baik atau heroik, yang tidak bisa dijelaskan jika kita tidak bebas. Jika manusia tidak bebas, tidak ada alasan semua kegiatan itu terjadi. Misalnya, jika Bunda Teresa tidak bebas saat melayani, tidak ada alasan untuk mengaguminya. Perbuatannya hanya akan menjadi sebuah bencana alam saja.

Argumen ketiga adalah Argumen Etis. Seandainya tidak ada kebebasan, tidak akan ada juga tanggung jawab moral. Hukum mengandaikan adanya kebebasan dari pelaku kejahatan. Tanggung jawab ada karena seseorang dapat bebas memilih untuk berbuat baik atau jahat. Jika manusia dinyatakan tidak bebas, semua bentuk pelanggaran hukum tidak akan ada sanksinya. Hal ini melanggar prinsip moral dari jiwa manusia, yaitu: “Harus berbuat baik dan menghindari yang buruk.” Ungkapan asasi dari suara hati itu merupakan dasar dari kewajiban moral, yang kemudian memiliki dasar kebebasan untuk memilih. Adanya keharusan-keharusan tertentu yang dalam kehidupan sosial manusia, membuktikan bahwa manusia itu bebas.

Paham Determinisme dan Inkonsistensinya.

Permalink to section "Paham Determinisme dan Inkonsistensinya."

Determinisme adalah paham bahwa manusia tidak memiliki kebebasan dalam menentukan sikap dan tindakannya. Menurut paham ini, tindakan manusia selalu sudah ditentukan (determined) oleh hal-hal yang berada di luar kendalinya, baik dari faktor internal (genetik) maupun eksternal (lingkungan). Contoh paham determinisme adalah Determinisme Fisik, yang mendasarkan diri pada hukum-hukum alam yang bersifat menguasai semua hal dalam rangkaian sebab-akibat, tanpa pengecualian. Manusia, yang merupakan bagian dari alam, juga tunduk pada hukum-hukum ini, sehingga semua tindakan dan keputusan manusia selalu dideterminasikan oleh faktor-faktor fisik yang mendahuluinya.

Masalah utama dari determinisme terletak pada asumsinya bahwa kebebasan manusia otomatis menimbulkan pelanggaran terhadap hukum-hukum alam dan kausalitas. Asumsi itu sama sekali tidak benar. Kebebasan tidak berarti bahwa manusia bisa merusak rantai kausalitas, sehingga suatu sebab menghasilkan akibat yang berada di luar hukum alamnya. Kebebasan itu terjadi pada tingkat alasan atau motif-motif subjek, dan bukan pada tingkat sebab-akibat fisik. Manusia mampu mengorganisir sebab-sebab itu secara bebas, sesuai dengan motif atau tujuan yang mau dicapainya, supaya bisa menghasilkan akibat-akibat yang ia inginkan.

Secara umum, determinisme disebut tidak koheren karena ia bersifat mematikan dirinya sendiri (self-destroying). Jika paham determinisme dianggap benar, artinya para penganut determinisme sendiri menyampaikan gagasan determinismenya hanya karena faktor-faktor di luar kendalinya (hanya bagian dari rangkaian kausalitas). Dengan begitu, determinisme menjadi gagasan yang tidak objektif, dan bukan argumen yang otentik hasil pemikiran rasional. Inilah yang membuat determinisme kehilangan kredibilitasnya dan tidak perlu diterima sebagai kebenaran objektif.

Tiga Segi Historisitas Manusia sebagai Pengada yang Menyejarah.

Permalink to section "Tiga Segi Historisitas Manusia sebagai Pengada yang Menyejarah."

Ada tiga segi yang memungkinkan manusia menjadi pengada yang menyejarah. Pertama, Manusia merupakan Roh yang Terjelma, bukan materi murni ataupun roh murni. Kemungkinan-kemungkinan rohani manusia memerlukan materi untuk bisa diekspresikan dalam dunia. Dengan mengekspresikan kemampuan rohaninya, manusia keluar dari dirinya sendiri, dan mengungkapkan diri dalam suatu karya atau perbuatan. Karya manusia di dunialah yang memungkinkan adanya intersubjektivitas, karena melalui karya-karya tersebut, dirinya bisa berhubungan dengan masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Kedua, Intersubjektivitas. Subjektivitas manusia bukanlah interioritas yang tertutup ke dalam dirinya sendiri, tetapi memanifestasikan diri keluar, menunjukkan dan mengungkapkan diri kepada orang lain lewat wajah, pandangan, tutur kata, dan perbuatan. Lewat penampakan luar itu, orang lain mendapat tiga makna: sebagai saingan, penolong, dan juga tujuan moralku.

Ketiga, Keterikatan pada Waktu. Manusia berada dalam keterkaitan dengan waktu, karena manusia mendapati dirinya sekaligus berada dalam dunia yang telah dimanusiakan oleh pendahulunya, dan dunia yang harus dimanusiakan lebih lanjut. Manusia hadir dan melaksanakan tugasnya di dunia, dengan menerima masa lalu dan bertanggung jawab terhadap masa depan.

Perbedaan Pandangan Mengenai Transendensi menurut Nietzsche, Sartre, dan Marx.

Permalink to section "Perbedaan Pandangan Mengenai Transendensi menurut Nietzsche, Sartre, dan Marx."

Friedrich Nietzsche memandang kemanusiaan sebagai transisi sementara antara hewan dan manusia super (ubermensch), yang harus diatasi. Daya dorong manusia yang utama baginya adalah kehendak untuk berkuasa (will to power). Kebahagiaan dirasakan ketika kekuasaan bertumbuh, dan tujuan kekuasaan adalah mengatasi diri (transendensi) serta melampaui segala hambatan. Hambatan tersebut meliputi hambatan kognitif (gagasan yang mengatur hidup) dan hambatan fisik (nafsu-nafsu).

Jean-Paul Sartre berpendapat bahwa daya dorong utama manusia adalah keinginan untuk menjadi ada (to be). Manusia di dunia berada sebagai being-for-itself (ada yang belum sempurna) dan tidak akan pernah mencapai being-in-itself (ada yang sempurna dan tidak perlu berkembang lagi). Dalam ketidaksampaian itu, manusia tidak pernah bisa sepenuhnya bahagia, sehingga transendensi manusia dilihat sebagai sesuatu yang bersifat frustrasi.

Karl Marx mendefinisikan transendensi sebagai kegiatan penciptaan diri manusia, didorong oleh keinginan untuk menjadi dirinya sendiri. Faktor ekonomi sangat berpengaruh dalam penciptaan diri ini, khususnya ketika seseorang teralienasi dalam pekerjaannya. Alienasi ini mesti diatasi dan dilampaui, sehingga akhirnya manusia bisa merealisasikan dirinya.

Perbedaan fundamental di antara para tokoh ini terletak pada asumsi mereka mengenai daya dorong utama manusia untuk mengatasi diri (transendensi).

Hakikat Makna Hidup dan Pandangan Viktor Frankl.

Permalink to section "Hakikat Makna Hidup dan Pandangan Viktor Frankl."

Makna hidup adalah hal yang dipandang penting dan bernilai oleh seseorang, yang secara eksistensial merupakan alasan utamanya untuk menjalani kehidupan ini. Bagi Frankl, manusia tidak dapat hidup tanpa makna; makna merupakan tujuan utama manusia untuk hidup (the will to meaning). Karena itu, manusia sepanjang hidupnya terus mencari makna hidup, yang mengasumsikan bahwa makna hidup dapat ditemukan oleh manusia.

Makna hidup memiliki tiga sifat utama. Ia bersifat Subjektif, karena makna hidup setiap orang berbeda-beda, dan tidak harus baik secara moral. Ia Tidak Selalu Disadari; dalam menjalani hidupnya, seseorang tidak selalu sadar akan makna hidupnya, tetapi keinginan untuk hidup menunjukkan bahwa makna itu ada sebagai dasar motivasi yang harus dicari. Terakhir, makna hidup Dapat Berubah dan Hilang, misalnya memiliki impian baru setelah impian sebelumnya tidak tercapai, atau ketika sumber makna hidup (misalnya istri) meninggal.

Menurut Frankl, seseorang dapat menemukan makna hidup melalui tiga cara: melalui Pekerjaan, di mana dengan bekerja, seseorang yang kehilangan makna dapat merasa dirinya masih berguna, mengalami sesuatu, dan berjumpa dengan dunia. Melalui Relasi, di mana dengan berjumpa dengan orang lain, seseorang dapat keluar dari dirinya sendiri dan tidak tertutup atau depresi, serta menemukan sumber semangat. Dan melalui Mengambil Sikap, yaitu kemampuan untuk mengatasi suatu penderitaan yang tidak dapat dihindari. Dalam pencarian makna hidup, pendidikan merupakan faktor penting, yang diharapkan dapat mengarahkan manusia mencari makna hidup yang lebih bernilai, yang tidak hanya memperhitungkan diri sendiri.

Pandangan Mengenai Relasi Antarmanusia.

Permalink to section "Pandangan Mengenai Relasi Antarmanusia."

Martin Buber membedakan dua jenis relasi: Aku-Itu, di mana manusia menempatkan orang lain sebagai objek, bersifat fungsional, dan menganggap orang lain hanya sebagai alat. Relasi yang ideal adalah Aku-Engkau, di mana manusia menempatkan orang lain secara setara sebagai subjek yang bermartabat. Relasi Aku-Engkau bersifat dialogis, memungkinkan saya berbicara sekaligus mendengar pihak lain, dan dicirikan oleh kehadiran langsung (kedua subjek sepenuhnya hadir), tanpa prasangka (menerima sebagaimana adanya), setara (bukan relasi tuan-hamba), dan merupakan jalan menuju Allah. Walaupun kurang ideal, relasi Aku-Itu mungkin muncul dalam situasi yang memang bersifat fungsional.

Emmanuel Levinas berpendapat bahwa pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan besar untuk mementingkan egonya. Oleh karena itu, dalam berelasi, manusia harus berusaha untuk sungguh-sungguh mengutamakan orang lain (transendensi total), menempatkan orang lain sebagai yang lebih tinggi. Hal ini terungkap dalam bentuk suatu tanggung jawab kepada orang lain, sehingga relasi ideal menurut Levinas bersifat asimetris. Wajah orang lain itu selalu menuntut pertanggung jawaban dari aku dan merupakan jejak dari Yang Tak Terbatas (the infinite).

Martin Heidegger tidak mencari relasi ‘yang ideal’, melainkan melihat dari sudut struktur eksistensial manusia sebagai dasein (Ada di Sana). Salah satu strukturnya adalah mit-sein (Ada-Dengan), khususnya Mit-Dasein (ada-dengan-orang-lain), yang menunjukkan bahwa manusia tidak bisa hidup terpisah dari orang lain. Namun, struktur ini sering membuat hidup manusia menjadi tidak otentik karena cenderung hilang dalam kerumunan orang lain (they), mengikuti arus masyarakat.

Jean-Paul Sartre berpandangan bahwa manusia pada hakikatnya adalah kesadaran dan bebas (berada pada tingkat being-for-itself). Kesadaran ini selalu berusaha menjadikan orang lain sebagai objeknya. Dalam relasi, manusia berusaha menghindar dari situasi yang menjadikan saya objek dari kesadaran orang lain, karena hal itu akan mengurangi kebebasan saya. Oleh karena itu, bagi Sartre, relasi antarmanusia adalah relasi yang saling mengobjekkan, sehingga “orang lain adalah neraka”.

Gabriel Marcel berbicara tentang relasi antarmanusia seperti yang digambarkan Buber, yaitu dialogis, namun bersifat lebih intim. Ia menolak filsafat tradisional yang cenderung melihat dunia, orang lain, dan diri kita sendiri sebagai objek yang perlu dikenali atau diselidiki. Seharusnya, relasi dengan Ada (beings) terungkap dalam partisipasi (menikmati kehadiran), bukan sekadar pengamatan. Partisipasi itu terungkap dalam bentuk ketersediaan diri (availability) bagi orang lain, yang ditandai dengan kesiapan hadir, penerimaan (bersedia mendengarkan), keterlibatan, kesetiaan (mau berkomitmen), dan kreativitas (mengembangkan relasi yang sudah ada).

Tiga Argumen Pendukung Kekekalan Jiwa dan Penilaiannya.

Permalink to section "Tiga Argumen Pendukung Kekekalan Jiwa dan Penilaiannya."

Argumen pertama adalah Argumen Etis. Dalam hidup, banyak terjadi ketidakadilan; orang yang jahat tambah bahagia, tetapi orang yang baik malah menderita. Maka, ketidakadilan yang terjadi mesti ada sanksinya dalam suatu kehidupan, entah sekarang atau sesudahnya. Penilaian: Argumen ini bukan argumen yang kuat, karena ia hanya menuntut adanya kehidupan lain yang mungkin akan berakhir apabila keadilan sudah dipulihkan, bukan secara definitif menuntut adanya kekekalan jiwa.

Argumen kedua adalah Argumen Filosofis dan Teknis. Kenyataan bahwa fungsi jiwa bukan hanya untuk menjiwai tubuh saja, tetapi ada juga fungsi spiritual lainnya, menunjukkan bahwa jiwa mengungguli materi (transendensi). Maka, jiwa tidak dapat musnah karena kehancuran materi atau tubuh. Penilaian: Argumen ini terlalu teknis dan kering, sehingga tidak selalu dapat dimengerti dan meyakinkan orang awam.

Argumen ketiga adalah Argumen Cinta Kasih. Pada dasarnya, manusia mengharapkan orang lain itu tetap hidup. Harapan yang muncul dari pengalaman cinta kasih ini hanya bisa dijawab dengan adanya kekekalan jiwa. Seperti yang Gabriel Marcel katakan, “Mencintai seseorang berarti mengharapkan ia kekal.”. Penilaian: Argumen ini terlalu menekankan perasaan, dan argumentasi penarikan kesimpulan logisnya dinilai tidak kuat.

Pandangan Mengenai Kematian menurut Heidegger, Sartre, dan Camus.

Permalink to section "Pandangan Mengenai Kematian menurut Heidegger, Sartre, dan Camus."

Bagi Martin Heidegger, kematian sudah tertanam dalam struktur ontologis eksistensi manusia. Karena itu, ia menyebut manusia sebagai Ada-menuju-kematian (sein-zum-tode). Manusia merupakan satu-satunya pengada hidup yang sadar akan kematian yang akan datang, sementara akhir hidup binatang adalah ‘kemusnahan’. Kesadaran akan batas akhir inilah yang membuat kehidupan manusia bermakna. Otentisitas hidup manusia justru terungkap dalam keberanian dan kesediaan untuk menghadapi kematian, dan bukan menghindarinya dalam kesibukan sehari-hari.

Jean-Paul Sartre melihat manusia menemukan dirinya terkutuk untuk mati. Kematian datang dari luar dan mematahkan secara radikal eksistensi manusia yang terarah kepada dan dalam kebebasan (sebagai being-for-itself). Kematian meniadakan segala kemungkinan bagi aku, dan dengan begitu, mengosongkan hidup manusia dari segala makna. Inilah absurditas kehidupan manusia menurut Sartre.

Albert Camus menyatakan bahwa kematian yang ada di masa depan adalah fakta yang tak terelakkan. Manusia, dengan membuat berbagai rencana, hidup untuk masa depannya, tetapi masa depan yang dirindukan justru mendatangkan kematian. Hal ini membuat kehidupan menjadi suatu absurditas. Berhadapan dengan absurditas, manusia bisa putus asa (ketiadaan pengharapan) atau menenggelamkan diri dalam anonimitas kehidupan modern (penolakan absurditas). Camus menolak ‘salto’ ke dalam agama (karena itu berarti melarikan diri dari kematian) dan menolak bunuh diri (sebagai solusi semu). Absurditas harus dihadapi, dan ketiadaan makna harus dikontemplasikan. Jalan tengah penghayatan absurditas menurut Camus adalah pemberontakan (revolt), yaitu “menantang dunia secara baru dalam setiap detik hidupnya”. Manusia absurd mencapai kebebasan batin ketika ia meninggalkan ilusi yang selama ini mendasari hidupnya dan menerima bahwa ia tidak dapat menemukan makna di dunia ini.